Mengukur Daya Saing Suatu Negara

Setelah membahas apa yang dimaksud dengan daya saing serta hubungan produktivitas dan daya saing, selanjutnya saya akan mengulas tentang pengukuran daya saing suatu negara. Pentingnya pengukuran tersebut dapat dipahami dengan sebuah jargon.

Ada sebuah jargon yang cukup dikenal di dunia yaitu:
“if you can’t measure it, you can’t improve it”.
atau

“jika anda tidak bisa mengukur sesuatu, anda tidak bisa meningkatkan/memperbaiki sesuatu itu”.

Kalimat tersebut meski tidak pasti siapa yang mengatakannya (ada yang bilang itu kata-kata Lord Kelvin, ada yang bilang Peter Drucker, atau William Thomson) namun tetap dapat menjadi perhatian.

Jika seseorang mendirikan kedai kopi di Bekasi, kemudian ingin meningkatkan kinerja kedai kopinya, tentu salah satu hal yang perlu dia ketahui adalah bagaimana kondisi sekarang dan bagaimana kondisi yang diharapkan kedepannya, kemudian indikator apa yang digunakan untuk menentukan bahwa kondisi di masa depan sudah lebih baik dibanding sekarang, misalnya: jumlah pengunjung kedai kopi perbulan dan jumlah keuntungan yang diraih.

Bahkan luas bangunan pun bisa menjadi alat ukur perbaikan, misalnya luas kedai sekarang 5 x 10 meter, di masa depan dia membeli atau menyewa lahan di sebelahnya maka luas kedainya menjadi 10 X 10 meter, yang artinya di masa depan ada peningkatan dari masa sekarang.

Dengan memahami analogi di atas, tentu bisa dipahami bahwa untuk meningkatkan apa yang dikatakan sebagai “daya saing suatu negara” tentu perlu dilakukan pengukuran.

Dengan alat ukur itu kita bisa menilai apakah telah terjadi peningkatan daya saing atau stagnan dan bahkan melemah. Oleh karena itu, berbagai lembaga internasional mencoba menyusun metode pengukuran daya saing suatu perekonomian, misalnya Global Competitiveness Index (GCI) yang dipublikasikan oleh World Economic Forum, World Competitiveness Yearbook (WCY) yang dipublikasikan oleh Institute for Management Development (IMD), Competitiveness Industrial Performance Index yang dipublikasikan oleh UNIDO, Global Manufacturing Competitiveness Index (GMCI) yang dipublikasikan oleh Deloitte Touche Tohmatsu Limited (Deloitte) dan The U.S. Council on Competitiveness.

Berbagai indikator pengukuran daya saing yang telah disebutkan di atas memiliki metodenya masing-masing sehingga bisa menunjukkan hasil yang berbeda meski perbedaan itu mestinya tidak terlalu jauh.

Jika kita merujuk laporan The Global Competitiveness Report 2018 yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF), daya saing Indonesia yang diukur dengan Global Competitiveness Index 4.0 (GCI 4.0) berada di posisi 45.

Perlu diketahui bahwa pada laporan The Global Competitiveness Report 2018 yang terbit di tahun 2018 tersebut terdapat perubahan metodologi dari terbitan tahun sebelumnya (The Global Competitiveness Report 2017-2018, terbit tahun 2017), sehingga peringkat yang tercantum pada kedua laporan tersebut tidak dapat dibandingkan begitu saja.

Ada 12 pilar yang menjadi komponen pengukuran daya saing GCI 4.0, yaitu institusi (institusions), infrastruktur (infrastructure), kesiapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT adoption), stabilitas makroekonomi (macroeconomic stability), kesehatan (health), keterampilan (skills), pangsa pasar (product market), pasar tenaga kerja (labour market), sistem keuangan (financial system), ukuran pasar (market size), dinamika bisnis (business dynamism), dan kapasitas inovasi (innovation capability).

Setiap indikator tersebut memiliki skor 0-100 di mana setiap negara harus melakukan upaya untuk memaksimalkan skor setiap indikator. Sehingga dengan demikian, daya saing menurut laporan WEF tersebut bukanlah zero-sum game antarnegara, artinya bisa diraih oleh seluruh negara di dunia.

Sekian rangkaian tulisan mengenai Seputar Daya Saing Perekonomian ini. Jika ada kesempatan, saya mungkin akan mencoba membahas perbedaan berbagai metode pengukuran daya saing tersebut, namun untuk saat ini saya ucapkan terima kasih atas waktunya membaca artikel ini dan mengunjungi blog ini.

Iqbal - InspirasiEkonomi.com

Comments

Popular Posts